Profil

Rumah Tunjung Indonesia adalah gerakan sosial dan kultural yang berakar di lereng selatan Gunung Hyang Argopuro, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Kami berdiri dengan semangat menjaga sumber mata air, budaya lokal, dan masa depan ekologis desa.
Melalui pendidikan, kolaborasi, dan karya nyata, kami berupaya menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal dalam menjaga alam, terutama tujuh sumber mata air di tujuh desa yang menjadi nadi kehidupan masyarakat Panti. Rumah Tunjung Indonesia berbadan hukum berdasarkan SK Menkumham No. AHU-0014069.AH.01.07.Tahun 2021 dan berpusat di Jl. PB Sudirman No. 42, Panti – Jember.

Latar Belakang

Lereng selatan Gunung Hyang Argopuro dikenal sebagai wilayah dengan kekayaan ekologi dan budaya yang saling berkelindan. Di sana, air bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga sumber makna.
Namun dalam dua dekade terakhir, kawasan ini menghadapi tantangan serius: kerusakan hutan akibat alih fungsi lahan, penurunan debit air di beberapa sumber utama, menurunnya partisipasi generasi muda dalam tradisi penjagaan sumber mata air, serta hilangnya ruang bersama antara masyarakat, budaya, dan ekosistem.

Dari kegelisahan itulah, Rumah Tunjung lahir sebagai ruang perjumpaan antara pengetahuan tradisional dan inovasi generasi muda. Kami meyakini bahwa menjaga air bukan sekadar urusan teknis lingkungan, melainkan tindakan budaya, spiritual, dan sosial. 

Melalui pendekatan literasi, seni, dan pendidikan berbasis alam, Rumah Tunjung membangun kembali ekologi kesadaran — bahwa manusia, budaya, dan air adalah satu kesatuan.

Visi dan Misi

Visi

Menjadi pusat gerakan pelestarian air dan kebudayaan lokal di lereng selatan Gunung Hyang Argopuro yang menginspirasi praktik keberlanjutan berbasis nilai spiritual, ekologis, dan literasi.

Misi

  • Menjaga dan memulihkan sumber mata air di tujuh desa lereng Argopuro melalui kolaborasi masyarakat, adat, dan ilmuwan.
  • Menghidupkan kembali ritual, seni, dan tradisi lokal sebagai bagian dari konservasi budaya dan lingkungan.
  • Mendorong literasi ekologi dan budaya bagi anak muda melalui Sekolah Air, Festival Sumber Tunjung, dan Jambore Literasi Pemuda.
  • Membangun sistem dokumentasi dan pengetahuan lokal tentang sumber daya air dan kearifan masyarakat adat.
  • Menjadi mitra pemerintah dan lembaga internasional dalam upaya adaptasi perubahan iklim berbasis komunitas.