REVITALISASI SUMBER TUNJUNG

Profil

REVITALISASI SUMBER MATA AIR TUNJUNG DESA PANTI KECAMATAN KABUPATEN JEMBER

Wujud Sabda Alam

Di lereng selatan Gunung Hyang Argopuro, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, terdapat bentang alam yang menjadi hulu bagi kehidupan banyak desa. Di wilayah inilah air lahir, mengalir, dan menentukan nasib masyarakat di hilir. Dari kesadaran akan pentingnya menjaga sumber kehidupan tersebut, lahirlah sebuah gerakan bernama Rumah Tunjung Indonesia.

Rumah Tunjung Indonesia bukan sekadar organisasi, melainkan ruang gerakan yang tumbuh dari masyarakat. Ia berangkat dari pemahaman bahwa alam selalu memberi tanda—melalui perubahan debit air, kondisi hutan, hingga peristiwa ekologis yang terjadi. Tanda-tanda itulah yang kemudian dibaca dan direspons sebagai bagian dari tanggung jawab bersama. Inilah yang dirumuskan dalam semangat “Wujud Sabda Alam”: menghadirkan tindakan nyata sebagai jawaban atas suara alam.

Gerakan ini bekerja di tujuh desa di Kecamatan Panti, yaitu Desa Panti, Pakis, Kemuningsari Lor, Glagahwero, Suci, Kemiri, dan Serut. Setiap desa memiliki sumber mata air yang menjadi penopang kehidupan masyarakatnya—mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga pertanian. Sumber-sumber ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung dalam satu sistem alam yang utuh.

Dalam perspektif hidrologi, hubungan antar sumber mata air, hutan, dan aktivitas manusia membentuk satu kesatuan dalam siklus hidrologi. Namun bagi masyarakat, keterhubungan ini tidak hanya dipahami sebagai konsep ilmiah, melainkan sebagai pengalaman hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu bentuk nyata dari gerakan ini adalah Festival Sumber Tunjung, sebuah peristiwa budaya yang mempertemukan tujuh desa dalam satu prosesi penyawijian air. Dalam kegiatan ini, masyarakat mengambil air dari sumber masing-masing, lalu membawanya ke satu titik untuk disatukan dalam satu bejana. Air yang telah menyatu kemudian dikembalikan kembali ke setiap desa melalui kendi yang dibawa oleh para kepala desa.

Proses ini bukan sekadar ritual, melainkan cara masyarakat menegaskan bahwa air adalah milik bersama, dan menjaga satu sumber berarti menjaga seluruh kehidupan. Dari sinilah tumbuh kesadaran kolektif bahwa tanggung jawab terhadap lingkungan tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan harus dijaga bersama.

Selain festival, Rumah Tunjung Indonesia juga mengembangkan berbagai program seperti Sekolah Air, yang menjadi ruang belajar bagi masyarakat untuk memahami lingkungan dan masa depan sumber daya air. Ada pula kegiatan ekspedisi sumber mata air, riset budaya, serta berbagai aksi konservasi seperti penanaman pohon dan perlindungan kawasan resapan.

Gerakan ini juga memberi ruang besar bagi generasi muda melalui kegiatan literasi, media, dan penguatan kapasitas. Bagi Rumah Tunjung, menjaga alam tidak hanya soal hari ini, tetapi juga tentang menyiapkan generasi yang akan melanjutkan upaya tersebut di masa depan.

Dalam perjalanannya, Rumah Tunjung Indonesia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tekanan terhadap lingkungan, perubahan pola hidup masyarakat, hingga keterbatasan sumber daya. Namun justru dari tantangan tersebut, gerakan ini terus berkembang dan memperkuat kolaborasi lintas desa, komunitas, dan berbagai pihak.

Ke depan, Rumah Tunjung Indonesia berupaya menjadi model gerakan konservasi berbasis masyarakat yang mengintegrasikan budaya dan pengetahuan. Sebuah pendekatan yang tidak hanya menjaga alam secara fisik, tetapi juga merawat kesadaran manusia sebagai bagian dari alam itu sendiri.