“Teras Argopuro” Hadir di Dusun Prapah, Ikhtiar Baru Wisata Sungai di Lereng Selatan Argopuro

Wujud Sabda Alam (Selamat Hari Bumi)

Panti, Jember — Sebuah inisiatif lokal yang memadukan keindahan alam, kepedulian lingkungan, dan semangat kolaborasi masyarakat kini mulai tumbuh di Dusun Prapah, Desa Panti, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember. Kawasan di pinggiran daerah aliran sungai ini mulai dikenalkan sebagai “Teras Argopuro”, sebuah ruang potensial wisata alam yang menawarkan panorama langsung ke Gunung Argopuro dari lereng selatannya.

Dengan latar pemandangan pegunungan yang asri serta keberadaan struktur beronjong di sepanjang aliran sungai, kawasan ini tidak hanya memiliki fungsi ekologis sebagai penguat tebing sungai, tetapi juga menyimpan potensi estetika yang dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis alam dan masyarakat. Namun, lebih dari itu, kawasan ini juga mulai diarahkan sebagai ruang edukasi lingkungan yang hidup.

Inisiatif ini digagas oleh Koordinator Daerah Rambipuji, Mohamad Yasin, S.AP., bersama jajaran pemerintah Kecamatan Panti yang dipimpin oleh Camat Panti, Hendra Kusuma, S.Sos., serta didukung penuh oleh Kepala Desa Panti, Suroso. Kolaborasi ini menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran bahwa ruang-ruang alami di desa memiliki nilai lebih jika dikelola secara berkelanjutan.

Kegiatan yang menandai dimulainya pengenalan Teras Argopuro ini diisi dengan aksi nyata berupa kerja bakti pembersihan sampah di sepanjang daerah aliran sungai. Warga bersama berbagai unsur masyarakat bahu-membahu membersihkan lingkungan, sebagai simbol bahwa pengembangan wisata harus dimulai dari kesadaran menjaga alam.

Selain itu, suasana kebersamaan semakin terasa melalui kegiatan senam bersama yang diikuti oleh ibu-ibu PKK Desa Panti. Kegiatan ini tidak hanya mempererat hubungan sosial, tetapi juga menunjukkan bahwa pengembangan kawasan ini melibatkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.

Yang menarik, Teras Argopuro tidak hanya diproyeksikan sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran melalui pendekatan Sekolah Air dan edukasi irigasi berbasis masyarakat. Program ini diharapkan menjadi media pengingat bahwa air bukan sekadar sumber daya, melainkan sistem kehidupan yang harus dijaga dari hulu hingga hilir.

Kesadaran ini bukan tanpa alasan. Masyarakat Panti memiliki memori kolektif atas peristiwa banjir bandang tahun 2006—sebuah kejadian yang menjadi pengingat bahwa kelalaian dalam menjaga lingkungan, khususnya kawasan hulu dan aliran sungai, dapat berujung pada bencana yang merugikan banyak pihak. Oleh karena itu, penguatan literasi air, pemahaman tentang fungsi daerah resapan, serta praktik sederhana seperti menjaga kebersihan sungai dan sistem irigasi menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.

Dalam kesempatan tersebut, para inisiator menyampaikan harapan besar agar Teras Argopuro tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat berkembang menjadi program berkelanjutan. Ditekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, serta komunitas lokal, termasuk Rumah Tunjung Indonesia, sebagai gerakan yang selama ini aktif dalam menjaga sumber mata air dan ekologi di lereng selatan Argopuro.

“Teras Argopuro ini bukan hanya tentang wisata, tetapi tentang bagaimana kita merawat ruang hidup bersama. Harapannya, ke depan akan ada kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan komunitas, sehingga kawasan ini bisa berkembang tanpa kehilangan nilai ekologisnya,” ungkap salah satu pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Dengan semangat gotong royong dan kesadaran kolektif, Teras Argopuro diharapkan menjadi contoh bahwa pengembangan wisata desa tidak harus dimulai dari hal besar, tetapi dari langkah kecil yang konsisten—membersihkan, merawat, sekaligus membangun pengetahuan bersama tentang pentingnya air dan lingkungan sebagai penopang kehidupan. Red..


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *