RUMAH TUNJUNG INDONESIA
Rumah Tunjung Indonesia adalah komunitas budaya dan kesadaran lingkungan yang tumbuh dari akar masyarakat Desa Panti, Kabupaten Jember. Komunitas ini lahir dari kegelisahan yang sederhana namun mendasar: ketika alam mulai dianggap sekadar sumber daya, dan air—sumber kehidupan—perlahan dilupakan maknanya.
Rumah Tunjung memaknai dirinya bukan sekadar organisasi, melainkan ruang.
Ruang untuk bertemu, berdialog, dan merawat nilai-nilai lokal yang hidup dalam budaya, spiritualitas, serta hubungan manusia dengan alam.
Nama Tunjung—bunga yang tumbuh dari air dan lumpur—dipilih sebagai simbol: bahwa kehidupan yang indah lahir dari kesadaran, ketekunan, dan keterhubungan dengan alam.




NILAI DAN ARAH GERAK
Rumah Tunjung Indonesia bergerak dengan keyakinan bahwa:
1. Budaya adalah penjaga ingatan
2. Air adalah penjaga kehidupan
3. Kesadaran bersama adalah awal perubahan
Komunitas ini menjadikan kearifan lokal, ritual adat, dan laku reflektif sebagai medium untuk membangun kesadaran ekologis, terutama dalam menjaga sumber-sumber air yang menjadi penopang hidup masyarakat desa.
EVENT BUDAYA:
PENYATUAN TUJUH SUMBER AIR
Salah satu kegiatan utama Rumah Tunjung Indonesia adalah penyelenggaraan ritual budaya Penyatuan Tujuh Sumber Air, yang dilaksanakan bersamaan dengan agenda Bupati Ngantor Desa pada 27 Oktober 2025, bertempat di Desa Pakis, Kampung Durian, Kecamatan Panti.
Ritual ini melibatkan perwakilan dari tujuh desa di Kecamatan Panti, masing-masing membawa air dari sumber mata air di wilayahnya. Air-air tersebut disatukan dalam satu wadah sebagai simbol:
1. persatuan antar desa
2. keselarasan manusia dan alam
3. komitmen bersama menjaga sumber kehidupan
Prosesi berlangsung khidmat, dihadiri oleh Bupati Jember, tokoh adat, sesepuh desa, serta masyarakat. Ritual ini menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya berbicara soal infrastruktur, tetapi juga kesadaran, nilai, dan keberlanjutan.
Selain kegiatan seremonial, Rumah Tunjung Indonesia juga menjalankan Ekspedisi Sumber Air, sebuah upaya penelusuran, pendokumentasian, dan pemetaan mata air di wilayah Kecamatan Panti.
Ekspedisi ini dilakukan dengan pendekatan:
- jalan kaki ke sumber-sumber air
- dialog dengan warga dan sesepuh desa
- pencatatan sejarah, fungsi, dan kondisi mata air
Tujuannya bukan sekadar eksplorasi fisik, melainkan menghidupkan kembali ingatan kolektif bahwa mata air adalah ruang sakral yang harus dijaga, bukan dieksploitasi..
Bagi Rumah Tunjung Indonesia, menjaga air berarti menjaga masa depan.
Bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk generasi yang akan datang.
Di tengah perubahan zaman, Rumah Tunjung berdiri sebagai pengingat bahwa:
“kemajuan tanpa kesadaran hanya akan meninggalkan kekeringan—
pada alam, dan pada manusia itu sendiri”


