UNEJ Kembangkan Literasi Berbasis Kearifan Lokal dan Ekologi melalui Tradisi Tilik Sumber di Panti

JEMBER — Kekayaan budaya masyarakat lereng selatan Gunung Argopuro menjadi salah satu sumber penting dalam pengembangan literasi berbasis kearifan lokal dan ekologi. Hal tersebut menjadi fokus kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan Gio Pramanda Galaxi, S.S., M.A., dosen Program Studi S1 Sastra Indonesia Universitas Jember (UNEJ), di Rumah Tunjung Indonesia, Desa Panti, Kabupaten Jember, dengan Rumah Tunjung Indonesia sebagai mitra.

Kegiatan yang mengusung program “Pengembangan Literasi Masyarakat Berbasis Kearifan Lokal dan Ekologi melalui Sastra dan Cerita Komunitas” tersebut mendorong masyarakat untuk menggali pengalaman, pengetahuan, tradisi, serta hubungan masyarakat dengan lingkungan sebagai sumber penciptaan cerita dan karya sastra.

Pengembangan literasi dalam kegiatan ini tidak semata-mata diarahkan pada kemampuan teknis menulis. Masyarakat diajak untuk mengenali kembali berbagai pengetahuan lokal yang hidup di lingkungan mereka, kemudian mendokumentasikan dan mengembangkannya menjadi cerita yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menggali Kearifan Lokal dari Lereng Argopuro

Salah satu pengetahuan lokal yang diangkat dalam kegiatan tersebut adalah tradisi masyarakat dalam menjaga sumber mata air. Untuk memperkaya proses penggalian cerita, kegiatan ini menghadirkan Muhammad, juru kunci Sumber Tunjung di Desa Panti, sebagai narasumber yang memiliki pengetahuan langsung mengenai tradisi dan ritus yang berkembang di masyarakat lereng selatan Argopuro.

Dalam pemaparannya, Pak Muhammad menceritakan tentang tradisi Tilik Sumber, sebuah ritus masyarakat yang berkaitan dengan penjagaan dan penghormatan terhadap sumber mata air.

Tilik Sumber menjadi salah satu contoh bagaimana hubungan masyarakat dengan alam tidak hanya diwujudkan dalam praktik menjaga lingkungan, tetapi juga hadir melalui tradisi dan ritus yang memiliki nilai sosial dan budaya. Sumber mata air dipandang sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat sehingga keberadaannya perlu dijaga dan dihormati.

DSC03847

“Tilik Sumber merupakan bagian dari tradisi masyarakat untuk menjaga sumber mata air. Masyarakat datang untuk melihat dan memperhatikan kondisi sumber, karena sumber air ini menjadi bagian penting bagi kehidupan. Ada nilai penghormatan dan tanggung jawab yang diwariskan dari generasi ke generasi.”
— Muhammad, Juru Kunci Sumber Tunjung, Desa Panti

Cerita mengenai Tilik Sumber tersebut menjadi contoh konkret bahwa lingkungan dapat menjadi sumber pengetahuan sekaligus sumber cerita. Tradisi yang berkembang di masyarakat tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menyimpan pesan mengenai hubungan manusia dengan alam.

Sastra sebagai Ruang Dokumentasi Pengetahuan Lokal

Bagi UNEJ, pengetahuan seperti Tilik Sumber memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bagian dari literasi masyarakat. Pengalaman dan tradisi yang selama ini hidup dalam praktik masyarakat dapat diolah menjadi cerita, tulisan, maupun karya sastra.

Gio Pramanda Galaxi mengatakan bahwa pengembangan literasi perlu dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

DSC03806

“Literasi masyarakat tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka. Lingkungan, kebudayaan, pengalaman, dan cerita yang ada di sekitar justru merupakan sumber pengetahuan yang sangat kaya. Melalui sastra, semua itu dapat diolah menjadi cerita yang memiliki nilai budaya sekaligus membangun kesadaran ekologis.”
— Gio Pramanda Galaxi, S.S., M.A., Dosen Program Studi S1 Sastra Indonesia UNEJ

Menurut Gio, tradisi lokal seperti Tilik Sumber menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya telah memiliki pengetahuan ekologis yang berkembang melalui pengalaman dan kebudayaan. Pengetahuan tersebut penting untuk didokumentasikan agar tidak hilang dan dapat dipahami oleh generasi berikutnya.

Rumah Tunjung Indonesia sebagai Mitra

Dalam pelaksanaan pengabdian, Rumah Tunjung Indonesia berperan sebagai mitra yang menjadi ruang berlangsungnya kegiatan literasi masyarakat. Keberadaan mitra menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan program pengabdian UNEJ di tingkat komunitas.

Irham Fidaruzziar, Founder Rumah Tunjung Indonesia, menyampaikan bahwa Rumah Tunjung berupaya menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang berkembang di lingkungan sekitar.

DSC03794

“Rumah Tunjung hadir sebagai ruang bagi masyarakat untuk belajar, bertukar pengetahuan, dan mengembangkan gagasan. Kehadiran UNEJ melalui kegiatan pengabdian ini memberikan ruang untuk melihat kembali bahwa cerita, budaya, dan lingkungan yang ada di sekitar masyarakat dapat dikembangkan menjadi sumber literasi dan karya.”
— Irham Fidaruzziar, Founder Rumah Tunjung Indonesia

Kemitraan tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan melalui kegiatan yang berkelanjutan. Pelatihan literasi menjadi tahap awal yang dapat dilanjutkan dengan pendampingan penulisan, penggalian cerita lokal, dokumentasi tradisi, hingga pengembangan dan publikasi karya masyarakat.

Menjaga Tradisi, Merawat Lingkungan

Pengangkatan tradisi Tilik Sumber dalam kegiatan pengabdian ini memperlihatkan bahwa sastra dapat menjadi medium untuk mempertemukan kebudayaan dan ekologi. Cerita tentang sumber mata air tidak hanya berbicara mengenai lingkungan, tetapi juga mengenai nilai, ingatan, dan hubungan masyarakat dengan ruang hidupnya.

Tradisi Tilik Sumber menjadi salah satu contoh bahwa nilai-nilai pelestarian lingkungan telah tumbuh dalam kebudayaan masyarakat. Melalui proses literasi, nilai tersebut dapat dituliskan dan didokumentasikan sehingga tidak hanya tersimpan dalam ingatan masyarakat, tetapi juga dapat menjadi bahan pembelajaran dan sumber inspirasi bagi generasi selanjutnya.

Kegiatan pengabdian UNEJ bersama mitra Rumah Tunjung Indonesia ini diharapkan dapat menjadi bagian dari proses panjang penguatan literasi masyarakat. Sastra ditempatkan sebagai ruang untuk merekam pengetahuan lokal, sementara kearifan masyarakat dalam menjaga lingkungan menjadi sumber cerita yang memperkaya khazanah literasi di Kabupaten Jember.

Dengan demikian, pengabdian ini tidak sekadar mengajarkan masyarakat untuk menulis cerita, tetapi juga mendorong masyarakat untuk mengenali, merekam, dan merawat cerita serta pengetahuan yang telah hidup di lingkungannya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *