RUMAH TUNJUNG INDONESIA, PDP KAHYANGAN, DAN DISPORABUDPAR JEMBER SINERGI KEMBANGKAN FESTIVAL SUMBER TUNJUNG

Kolaborasi Budaya, Konservasi, dan Agrowisata untuk Memperkuat Penjagaan Lereng Selatan Argopuro

Gemini Generated Image h5t7gyh5t7gyh5t7 1

JEMBER — Rumah Tunjung Indonesia melakukan audiensi bersama PDP Kahyangan Jember dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember (Disporabudpar) pada Selasa, 1 September 2026, bertempat di Kantor Pusat PDP Kahyangan Jember, Jl. Gajah Mada No. 245, Kaliwates Kidul, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur, untuk membahas kolaborasi pengembangan Festival Sumber Tunjung sebagai agenda tahunan berbasis budaya, konservasi sumber mata air, dan pengembangan potensi wisata di Lereng Selatan Gunung Argopuro, Kecamatan Panti, Jember.

Pertemuan tersebut membahas bagaimana tradisi tilik sumber, kawasan perkebunan, penjagaan mata air, vegetasi, serta potensi agrowisata dapat dipertemukan dalam satu gerakan kolaboratif. Gagasan ini berangkat dari pandangan bahwa sumber mata air tidak dapat dipisahkan dari kawasan ekologis yang menopangnya.

Founder Rumah Tunjung Indonesia, Irham Fidaruzziar, mengatakan bahwa Lereng Selatan Argopuro membutuhkan sinergi berbagai pihak karena kawasan tersebut bukan hanya ruang produksi, tetapi juga ruang ekologis dan sosial masyarakat.

“Menjaga sumber tidak cukup hanya menjaga airnya. Kita harus menjaga vegetasi, kawasan resapan, lingkungan, dan pengetahuan masyarakat yang selama ini diwariskan melalui tradisi. Karena itu, Festival Sumber Tunjung kami dorong menjadi ruang pertemuan antara budaya, konservasi, masyarakat, dan pariwisata,” ujar Irham Fidaruzziar.

Menurut Irham, PDP Kahyangan memiliki posisi strategis sebagai mitra karena kawasan perkebunannya merupakan bagian dari lanskap Lereng Selatan Argopuro. Salah satu kawasan penting adalah Kebun Gunung Pasang di Kecamatan Panti yang dalam sejumlah dokumen tercatat memiliki luas sekitar 1.069,57 hektare, terkait dengan wilayah Desa Kemiri dan Suci.

Kawasan tersebut selama ini dikenal sebagai ruang produksi perkebunan, khususnya kopi dan karet. Namun, menurut Rumah Tunjung Indonesia, lanskap perkebunan juga memiliki peluang dikembangkan sebagai agrowisata dan wisata edukasi berbasis lingkungan dan budaya.

WhatsApp Image 2026 09 02 at 11.34.13

Direktur Produksi, Pemasaran, dan Pengembangan PDP Kahyangan, Nyoman Ariwibowo, menyambut baik gagasan kolaborasi tersebut.

“Kawasan perkebunan tidak hanya memiliki nilai produksi, tetapi juga memiliki lanskap, sejarah, lingkungan, dan potensi wisata. Kolaborasi dengan masyarakat, pemerintah daerah, dan komunitas menjadi penting agar potensi tersebut dapat dikembangkan secara bersama dan memberikan manfaat yang lebih luas,” ujar Nyoman Ariwibowo.

Dari sisi kebudayaan, Kepala Bidang Kebudayaan Disporabudpar Kabupaten Jember, Agung Nugroho, S.Sos., menyatakan kesiapan untuk bersinergi dalam menguatkan nilai budaya yang terkandung dalam tradisi masyarakat.

WhatsApp Image 2026 09 02 at 11.34.12

“Tradisi harus tetap hidup dan memiliki makna bagi masyarakat. Tilik sumber bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi memiliki nilai yang dapat diwariskan kepada generasi muda. Kami siap bersinergi agar kebudayaan dapat berjalan selaras dengan pengembangan pariwisata sekaligus kepedulian terhadap lingkungan,” kata Agung Nugroho.

BUDAYA SEBAGAI MODAL SOSIAL KONSERVASI

Rumah Tunjung Indonesia memandang tilik sumber sebagai salah satu modal sosial masyarakat dalam membangun kesadaran terhadap sumber mata air.

Sejumlah kajian mengenai kearifan lokal di berbagai daerah menunjukkan bahwa tradisi, norma, ritual, larangan, dan pewarisan pengetahuan dapat berperan dalam membentuk perilaku masyarakat untuk menjaga sumber air dan lingkungan di sekitarnya.

Dalam konteks Lereng Selatan Argopuro, nilai tersebut dapat diperkuat melalui kegiatan nyata seperti tilik dan bersih sumber, edukasi mata air, penanaman vegetasi, dokumentasi tradisi, serta pendidikan lingkungan bagi generasi muda.

Dengan demikian, budaya tidak hanya ditempatkan sebagai tontonan festival, tetapi sebagai media pendidikan ekologis dan pewarisan pengetahuan masyarakat.

WhatsApp Image 2026 09 02 at 06.27.41

TUJUH DESA, SATU LANSKAP

Festival Sumber Tunjung diarahkan untuk melibatkan tujuh desa di Kecamatan Panti yang berada dalam bentang Lereng Selatan Argopuro. Setiap desa memiliki sumber mata air, tradisi, cerita, dan karakter masyarakat yang dapat menjadi bagian dari identitas bersama kawasan.

Festival diharapkan menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi Lereng Selatan Argopuro secara lebih luas, termasuk kawasan perkebunan, kopi, budaya masyarakat, sumber mata air, serta lanskap alamnya.

Namun, pengembangan wisata tetap diarahkan dengan prinsip bahwa konservasi menjadi fondasi dan pariwisata menjadi salah satu manfaat turunannya.

MENUJU FESTIVAL TAHUNAN

Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada audiensi, tetapi dilanjutkan dengan penyusunan program bersama yang melibatkan PDP Kahyangan, Disporabudpar, pemerintah desa, masyarakat, komunitas, akademisi, pelaku usaha, dan media.

Festival Sumber Tunjung ke depan diharapkan memiliki rangkaian kegiatan yang tidak hanya berlangsung saat festival, tetapi juga menghasilkan aksi nyata setelahnya.

Mulai dari penjagaan sumber, penanaman dan perawatan vegetasi, edukasi lingkungan, jelajah perkebunan, edukasi kopi, dokumentasi budaya, pertunjukan tradisi, hingga pengembangan paket agrowisata berbasis masyarakat.

Bagi Rumah Tunjung Indonesia, keberhasilan festival bukan hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari seberapa jauh kegiatan tersebut mampu menghidupkan kembali budaya, memperkuat kesadaran menjaga sumber, membuka peluang ekonomi masyarakat, dan memperkenalkan Lereng Selatan Argopuro sebagai kawasan wisata berbasis alam dan budaya yang berkelanjutan.

Sebab pada akhirnya, menjaga sumber bukan hanya menjaga air. Menjaga sumber berarti menjaga lanskap, budaya, dan masa depan masyarakat Lereng Selatan Argopuro.

Festival Sumber Tunjung — dari tradisi, menuju konservasi; dari konservasi, menuju keberlanjutan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *