
Dua Tim Pengabdian dan Penelitian Bahas Tilik Sumber dan Festival Sumber Tunjung sebagai Potensi Pariwisata Berbasis Masyarakat dan Konservasi
JEMBER — Gagasan pengembangan kawasan lereng selatan Hyang–Argopuro kembali mendapat perhatian akademik. Rumah Tunjung Indonesia menerima kunjungan dua tim dari Politeknik Negeri Jember (Polije) untuk membahas potensi budaya, pariwisata, penelitian, dan pengabdian masyarakat di kawasan tersebut.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari diskusi sebelumnya antara Rumah Tunjung Indonesia dengan Prof. Dr. Muksin, S.P., M.Si. dan Prof. Dr. Ir. Nanang Dwi Wahyono, M.M., mengenai pentingnya kolaborasi dalam menjaga kawasan lereng selatan Argopuro.
Dua tim yang hadir terdiri dari tim pengabdian kepada masyarakat yang diketuai Fuad Nasir, S.Sos., M.I.Kom., dan tim penelitian yang diketuai Meiga Rahmanita, S.Pd., M.Pd.
Keduanya membahas potensi tradisi tilik sumber dan Festival Sumber Tunjung sebagai potensi destinasi budaya berbasis masyarakat.
TILIK SUMBER TIDAK HANYA TENTANG MITOS
Pembahasan tidak berhenti pada ritual, legenda, atau mitos yang berkembang di masyarakat.
Tradisi tilik sumber dipandang sebagai bagian dari pengetahuan lokal yang menggambarkan hubungan masyarakat dengan ruang hidupnya, termasuk sejarah desa, sumber air, lingkungan, pertanian, dan kawasan hulu Argopuro.

Fuad Nasir, S.Sos., M.I.Kom., mengatakan bahwa potensi budaya perlu dibaca lebih luas agar tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
“Tilik sumber memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata berbasis budaya dan masyarakat. Tetapi yang penting adalah bagaimana kita menggali cerita, nilai, dan pengetahuan yang ada di balik tradisi tersebut, kemudian mengemasnya menjadi pengalaman edukatif yang tetap menjaga identitas masyarakat.”
Menurut Fuad, pendekatan tersebut juga membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama.
“Masyarakat tidak boleh hanya menjadi objek wisata. Mereka harus menjadi bagian dari proses perencanaan, pengelolaan, dan penerima manfaat dari pengembangan potensi wilayahnya.”
PENELITIAN UNTUK MEMBANGUN BASIS PENGETAHUAN

Sementara itu, Meiga Rahmanita, S.Pd., M.Pd., melihat pentingnya dokumentasi dan penelitian untuk mengembangkan potensi kawasan secara lebih terukur.
“Cerita masyarakat, tradisi, dan sejarah lokal merupakan sumber pengetahuan yang penting. Tantangannya adalah bagaimana pengetahuan tersebut didokumentasikan secara sistematis sehingga dapat menjadi bagian dari kajian dan pengembangan destinasi yang memiliki dasar informasi yang kuat.”
Menurut Meiga, pengembangan destinasi budaya perlu memperhatikan karakter masyarakat dan keberlanjutan kawasan.
“Pengembangan pariwisata sebaiknya tidak hanya mengejar jumlah kunjungan. Yang lebih penting adalah bagaimana potensi lokal dapat memberikan pengalaman bagi pengunjung, memperkuat identitas masyarakat, sekaligus memberikan manfaat ekonomi tanpa menghilangkan nilai budaya dan lingkungan.”
RUMAH TUNJUNG: BUDAYA HARUS TERHUBUNG DENGAN KONSERVASI

Irham Fidaruzziar, S.ST., M.Tr.P., Ketua Rumah Tunjung Indonesia, mengatakan bahwa pertemuan dengan Polije menjadi penting karena budaya dan konservasi tidak dapat dipisahkan ketika membicarakan kawasan lereng Argopuro.
“Kami tidak ingin tilik sumber berhenti sebagai cerita ritual atau mitos. Di dalamnya ada sejarah, pengetahuan masyarakat, dan hubungan manusia dengan alam. Karena itu, tradisi harus kita dokumentasikan, sementara kondisi ekologisnya kita kaji dengan ilmu pengetahuan.”
Menurut Irham, Festival Sumber Tunjung juga perlu diarahkan menjadi ruang edukasi, bukan sekadar festival tahunan.
“Festival Sumber Tunjung harus menjadi ruang untuk mempertemukan budaya, pendidikan, lingkungan, dan ekonomi masyarakat. Orang datang bukan hanya melihat prosesi, tetapi memahami mengapa sumber air penting dan mengapa kawasan di atasnya harus dijaga.”
LERENG SELATAN ARGOPURO SEBAGAI KAWASAN TANGKAPAN AIR
Rumah Tunjung Indonesia menempatkan pembahasan budaya tersebut dalam konteks yang lebih besar, yaitu perlindungan lereng selatan Hyang–Argopuro sebagai kawasan tangkapan air.
Sumber air tidak dapat dipisahkan dari kondisi kawasan di atasnya. Tutupan vegetasi, tanah, hutan, pertanian, sungai, dan aktivitas manusia memiliki keterkaitan dengan keberlangsungan sistem tata air.
“Kalau kita hanya menjaga titik mata air tanpa menjaga kawasan tangkapan airnya, kita hanya menjaga bagian akhirnya. Yang harus dijaga adalah keseluruhan lanskapnya,” ujar Irham.
Karena itu, Rumah Tunjung Indonesia melihat kolaborasi dengan perguruan tinggi sebagai langkah penting untuk mempertemukan pengetahuan lokal dan pengetahuan akademik melalui penelitian, dokumentasi, pemetaan, dan pengabdian masyarakat.
FESTIVAL SUMBER TUNJUNG MENUJU DESTINASI EDUKATIF
Dalam diskusi, Festival Sumber Tunjung didorong untuk dikembangkan sebagai destinasi budaya-edukatif berbasis masyarakat.
Potensinya tidak hanya berupa ritual atau prosesi budaya, tetapi juga dapat mengangkat sejarah desa, pengetahuan lokal, pertanian, kuliner, seni, lanskap Argopuro, hingga edukasi mengenai konservasi sumber daya air.
Dengan demikian, pariwisata dapat menjadi instrumen untuk memperkuat identitas sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi masyarakat tanpa mengabaikan keberlanjutan kawasan.
MENUJU KOLABORASI PENTAHELIX
Pertemuan dua tim Polije tersebut memperkuat gagasan kolaborasi Pentahelix antara perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, serta media dan komunitas.
Rumah Tunjung Indonesia berharap pertemuan ini dapat ditindaklanjuti melalui penelitian, dokumentasi budaya, pemetaan potensi, pengabdian masyarakat, dan pengembangan Festival Sumber Tunjung.
Irham menegaskan:
“Argopuro bukan hanya gunung. Di lerengnya ada desa, pertanian, hutan, sumber air, sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat. Menjaga lereng selatan Argopuro berarti menjaga sistem kehidupan yang bergantung kepadanya.”
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari langkah membangun model pengembangan kawasan yang mempertemukan budaya, ilmu pengetahuan, pariwisata, pemberdayaan masyarakat, dan konservasi.
Rumah Tunjung Indonesia — Wujud Sabda Alam.



