7/7: Ketika Lereng Selatan Argopuro Mengajarkan Arti Menjunjung Air

Oleh: Irham Fidaruzziar

“Alam selalu berbicara. Persoalannya bukan apakah ia memiliki pesan, melainkan apakah manusia masih bersedia mendengarkannya.”

Ada sesuatu yang selalu membuat saya berhenti sejenak setiap kali kalender menunjukkan tanggal 7 Juli. Bagi sebagian orang, 7/7 mungkin hanya kombinasi angka cantik yang mudah diingat. Hari ini, dunia luar bahkan sedang riuh oleh angka itu. Di panggung sepak bola dunia, obsesi terhadap angka tujuh sedang memuncak—persaingan ketat Lionel Messi, Kylian Mbappé, dan Erling Haaland yang sama-sama mengemas tujuh gol, hingga penantian global terhadap duel emosional Portugal melawan Spanyol yang identik dengan sang pemilik nomor punggung 7, Cristiano Ronaldo.

Namun bagi saya, angka tujuh tidak sedang berada di atas rumput hijau. Angka itu mengalir di atas tanah vulkanik, menyusup di antara akar-akar pohon, dan memancar dari ceruk-ceruk sunyi di kaki gunung.

Tanggal 7 bulan 7 selalu membawa saya kembali pada satu perjalanan yang mengubah cara saya memandang hidup. Sebuah perjalanan batin yang melahirkan Rumah Tunjung Indonesia.

Menara Air yang Terluka

Nama saya Irham Fidaruzziar. Saya bukan seorang ahli geologi, bukan pula peneliti hidrologi. Saya hanyalah seseorang yang lahir dan tumbuh di kaki Gunung Hyang Argopuro, lalu suatu hari merasa bahwa ada sesuatu yang sedang hilang dari tanah tempat saya dibesarkan.

Yang hilang bukan hanya air. Yang hilang adalah hubungan manusia dengan air.

Di sebelah utara Kabupaten Jember, berdiri megah massif pegunungan Hyang Argopuro dengan ketinggian lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut. Kawasan hutan pegunungan terluas di Pulau Jawa ini adalah sebuah natural water tower—menara air alami. Berbagai data dari FAO, UNESCO, hingga Kementerian LHK menegaskan bahwa lebih dari separuh kebutuhan air bersih masyarakat di dataran rendah bergantung pada daerah tangkapan hujan (catchment area) di kawasan pegunungan seperti ini.

Di lereng selatan gunung inilah terdapat Kecamatan Panti. Secara geografis, Panti adalah simpul ekologis yang unik. Ia berada di tengah-tengah dari tujuh kecamatan yang berbatasan langsung dengan lereng selatan Argopuro: Arjasa, Sukorambi, Patrang, Panti, Bangsalsari, Sumberbaru, dan Tanggul. Panti adalah halaman depan sebuah gunung yang sejak ratusan tahun menjadi sumber kehidupan. Dari hutan-hutan di atas sana, air turun perlahan, meresap, lalu menghidupi ribuan keluarga di hilir Jember.

Namun, hubungan harmonis itu sering kali baru disadari ketika bencana datang.

Masyarakat Panti pernah menerima pelajaran ekologis itu dengan cara yang sangat menyakitkan. Pada awal tahun 2006, banjir bandang menerjang kawasan ini. Material kayu, batu, lumpur, dan air meluncur dari lereng gunung, menghantam permukiman, meratakan ratusan rumah, dan melenyapkan nyawa yang sebagian korbannya tidak pernah ditemukan hingga hari ini.

Saya tumbuh bersama ingatan kolektif yang terluka itu. Setiap kali mendengar kisah para penyintas, sebuah pertanyaan mengusik batin saya: Apakah kita hanya akan terjebak mengenang bencana, ataukah kita mulai belajar menjaga penyebab kehidupan?

Tilik Sumber: Menjemput Tujuh Cerita

Pertanyaan itulah yang menggerakkan saya dan beberapa sahabat untuk berjalan. Kami memulai sebuah gerakan sederhana yang kami sebut Tilik Sumber—sebuah perjalanan menyusuri mata air dari desa ke desa di Kecamatan Panti.

Kami tidak membawa teori-teori rumit. Kami membawa telinga. Kami mengetuk pintu rumah warga, duduk di beranda para sesepuh, dan mendengarkan kisah para petani. Kami percaya, sebelum menjaga alam, manusia harus lebih dahulu bersedia mendengar cerita alam.

Perjalanan yang awalnya kami kira biasa, perlahan berubah menjadi sebuah ekspedisi batin yang menyingkap keteraturan yang ganjil. Satu demi satu mata air kami temukan.

  • Satu desa, satu sumber.
  • Desa berikutnya, satu sumber lagi.

Ketika kami berhenti sejenak dan membuka kembali seluruh catatan lapangan, kami tertegun melihat hasilnya. Kami menghitungnya berulang kali, dan angkanya tetap sama: Tujuh desa. Tujuh sumber mata air utama. Tujuh penjaga. Tujuh cerita.

Awalnya, saya menganggap ini hanya kebetulan geomorfologi. Namun semakin dalam kami berjalan, angka tujuh seolah menolak disebut sebagai kebetulan. Ia terus hadir dalam percakapan, tradisi, hingga cara masyarakat lokal memaknai semesta.

Menjunjung Air, Menjunjung Kehidupan

Di titik itulah saya mulai merenung. Angka tujuh adalah simbol keteraturan kosmologis yang universal. Dalam Al-Qur’an, angka ini berulang kali muncul sebagai penanda keagungan ciptaan Allah; mulai dari penciptaan tujuh lapis langit (QS. Al-Mulk: 3) hingga tujuh bumi (QS. At-Talaq: 12). Dalam ritus ibadah, kita mengenal tujuh putaran thawaf dan tujuh kali sa’i antara Shafa dan Marwah. Bahkan dalam waktu, kita mendapati tujuh hari dalam sepekan.

Bagi saya pribadi, hadirnya tujuh mata air di lereng Argopuro ini bukanlah untuk dicari-cari ilmu cocoklogi mistisnya, melainkan sebuah pengingat profetik: bahwa alam semesta diciptakan dalam keseimbangan yang presisi, dan manusia bertugas untuk tidak merusaknya.

Dari perenungan atas ruang, spiritualitas, dan realitas ekologis itulah lahir gagasan untuk menghidupkan kembali tradisi lama melalui Festival Sumber Tunjung: Tujuh Yang Dijunjung.

Gerakan ini berdiri di atas keyakinan bahwa menjaga mata air tidak cukup hanya dengan menanam pohon atau mengeruk sungai. Menjaga mata air berarti merawat ingatan, menghidupkan tradisi, dan mengembalikan rasa hormat kita kepada alam. Jika masyarakat pendahulu kita memiliki kearifan lokal dalam memperlakukan air, mengapa nilai itu harus kita lupakan?

Festival ini bukan sekadar selebrasi, melainkan sebuah ikrar bersama. Bahwa air tidak boleh hanya diposisikan sebagai komoditas yang habis pakai, melainkan elemen kehidupan yang harus dihormati.

Sebab pada akhirnya, yang kami junjung di lereng Argopuro bukanlah sebuah angka. Melainkan keberlanjutan hidup yang mengalir melalui setiap tetes air yang diwariskan gunung kepada manusia. Ketika manusia berhenti menjunjung air, sesungguhnya saat itu pula kita sedang berhenti menjunjung kehidupan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *