MENYELAMI JEJAK SEJARAH SUMBER TUNJUNG: MATA AIR KEHIDUPAN DI JANTUNG DESA PANTI

TUNJUNG.ID

MENYELAMI JEJAK SEJARAH SUMBER TUNJUNG: MATA AIR KEHIDUPAN DI JANTUNG DESA PANTI

JEMBER- Di bawah bayang-bayang rimbun lereng Pegunungan Argopuro, terdapat sebuah situs perairan yang menjadi detak jantung kehidupan masyarakat Desa Panti, yang dikenal dengan nama Sumber Tunjung. Nama “Tunjung” sendiri diambil dari bahasa Jawa yang merujuk pada bunga teratai (Nymphaea), yang menurut penuturan lisan para sesepuh, dahulu menutupi permukaan air dengan kelopak-kelopak yang indah dan aroma wangi yang menenangkan. Secara historis, tempat ini diyakini sebagai lokasi pertapaan para pelarian bangsawan dari era kerajaan masa lampau yang mencari ketenangan spiritual. Kejernihan air yang memancar dari celah akar pepohonan purba dianggap sebagai simbol kemurnian jiwa, sebuah warisan alam yang menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus identitas spiritual warga setempat sejak berabad-abad silam.

Sejarah panjang mata air ini kemudian melahirkan sebuah kearifan lokal yang masih dipegang teguh hingga saat ini, yakni tradisi Tilik Sumber. Ritual ini bukan sekadar perjalanan fisik menuju hulu, melainkan sebuah bentuk diplomasi manusia dengan alam yang dilaksanakan berbarengan dengan perayaan Sedekah Bumi. Dalam prosesi ini, seluruh lapisan masyarakat berjalan kaki menyusuri jalan setapak untuk “menjenguk” kondisi mata air, memastikan tidak ada sumbatan atau kerusakan pada ekosistemnya. Di tepi sumber, warga menggelar selamatan dengan menyajikan berbagai hasil bumi sebagai bentuk syukur. Penyatuan tradisi Tilik Sumber dan Sedekah Bumi ini menegaskan filosofi bahwa keberlanjutan hasil panen di tanah Panti tidak akan pernah bisa terlepas dari bagaimana mereka menghargai setiap tetes air yang keluar dari perut bumi.

Memasuki masa kolonial hingga awal kemerdekaan, Sumber Tunjung berevolusi menjadi pilar ekonomi utama yang menggerakkan sistem irigasi di Desa Panti. Sejarah mencatat bahwa kemajuan pertanian di wilayah ini berawal dari semangat gotong royong warga yang membangun saluran air tradisional secara swadaya demi mengalirkan kemakmuran ke sawah-sawah yang sebelumnya hanya mengandalkan tadah hujan. Di sekitar bibir sumber inilah, interaksi sosial warga terjalin kuat; mulai dari diskusi masalah desa hingga rembuk tani dilakukan secara informal sembari mengambil air. Hal ini menjadikan Sumber Tunjung bukan hanya sebagai objek alam, tetapi juga ruang publik pertama di mana semangat persatuan masyarakat Panti ditempa dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ketangguhan sejarah Sumber Tunjung kembali teruji saat wilayah Panti dihantam bencana banjir bandang dahsyat pada tahun 2006. Di tengah kerusakan infrastruktur di sekitarnya, mata air ini tetap menunjukkan keajaibannya dengan tetap mengalirkan air jernih hanya dalam hitungan hari setelah bencana reda, seolah memberikan harapan baru bagi warga untuk bangkit. Pohon-pohon raksasa seperti beringin dan trembesi yang telah berusia lebih dari satu abad di sekelilingnya menjadi saksi bisu betapa kuatnya akar sejarah yang melindungi tempat ini. Kini, melalui revitalisasi berbasis budaya, sejarah Sumber Tunjung terus hidup melalui narasi-narasi pelestarian yang menghubungkan masa lalu yang agung dengan masa depan yang hijau, memastikan bahwa tradisi Tilik Sumber akan terus menjadi pengingat bagi anak cucu tentang pentingnya menjaga “napas” kehidupan desa mereka.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *