Sumber Kembar di Desa Pakis: Air yang Menyeimbangkan dari Lereng Argopuro

RUMAH TUNJUNG DI SUMBER KEMBAR DALAM KEGIATAN EKSPEDISI 7 SUMBER MATA AIR

jEMBER – Di lereng utara Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, tepat di Desa Pakis yang berbatasan langsung dengan kawasan Gunung Argopuro, terdapat sebuah sumber mata air yang tidak biasa. Warga menyebutnya Sumber Kembar—dua aliran air yang keluar dari satu titik, satu rahim bumi yang sama, namun mengalir ke arah yang berbeda.

Fenomena ini bukan sekadar keunikan geografis. Bagi masyarakat Desa Pakis, Sumber Kembar adalah simbol hidup tentang keseimbangan.

Dua aliran air yang mengarah ke timur dan barat dimaknai sebagai representasi dua kutub kehidupan: langit dan bumi, laki-laki dan perempuan, manusia dan alam. Dalam keseharian masyarakat yang hidup di wilayah perbukitan seluas sekitar 26,97 km²—terluas di Kecamatan Panti—kesadaran akan keseimbangan ini menjadi bagian dari cara mereka bertahan dan beradaptasi dengan alam.

Dalam setiap momentum ritual, khususnya dalam rangkaian Festival Sumber Tunjung, warga Desa Pakis mengambil air dari dua aliran tersebut, lalu menyatukannya kembali. Penyatuan ini bukan sekadar simbol, tetapi pernyataan sikap: bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirawat dalam harmoni.

Tradisi ini semakin menemukan relevansinya ketika Desa Pakis menghadapi berbagai dinamika lingkungan. Wilayah yang berada di lereng pegunungan ini pernah mengalami bencana banjir bandang yang merusak infrastruktur air bersih warga, bahkan memutus puluhan saluran pipa distribusi air.

Dalam situasi seperti itu, air tidak lagi hanya dimaknai sebagai simbol, tetapi menjadi kebutuhan paling mendasar. Kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan alam pun semakin menguat.

Ritual Sumber Kembar kemudian menjadi lebih dari sekadar tradisi. Ia menjadi cara masyarakat membaca tanda-tanda alam sekaligus meresponsnya. Ketika air disatukan, yang sebenarnya disatukan adalah niat—antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.

Dalam perspektif ilmiah, apa yang dilakukan masyarakat Desa Pakis mencerminkan prinsip dasar dalam hidrologi, bahwa sistem air selalu bergerak dalam keterhubungan. Dua aliran yang berbeda tetap berasal dari satu sumber yang sama, sebagaimana siklus hidrologi tidak pernah berhenti menghubungkan berbagai elemen dalam lanskap.

Namun bagi masyarakat Pakis, pemahaman itu tidak lahir dari teori, melainkan dari pengalaman hidup yang diwariskan lintas generasi.

Hari ini, Sumber Kembar tidak hanya menjadi bagian dari identitas Desa Pakis, tetapi juga menjadi simbol arah masa depan. Di tengah upaya desa untuk berkembang sebagai kawasan agrowisata berbasis potensi alam dan budaya, sumber ini menjadi penanda bahwa pembangunan tidak boleh mengabaikan keseimbangan ekologis.

Di Sumber Kembar, air mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam:
bahwa kehidupan bukan tentang memilih satu sisi, melainkan tentang menjaga agar semua sisi tetap berjalan seimbang.

Dan dari lereng Argopuro, pelajaran itu terus mengalir tenang, namun penuh makna.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *