Sholawat untuk Bumi di Sungai Warna Warni Desa Serut: Ketika Doa, Air dan Ikhtiar Merawat Bumi Menjadi Satu
PANTI, JEMBER — Di tengah aliran Sungai Warna Warni, Desa Serut, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, sebuah ikhtiar sederhana untuk merawat lingkungan dipertemukan dengan kesadaran spiritual melalui kegiatan “Sholawat untuk Bumi”. Kegiatan yang diinisiasi oleh Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) Desa Serut bersama Koordinator Sumber Daya Air (KORsDA) Rambipuji ini tidak hanya menjadi kegiatan membersihkan sungai dan melantunkan sholawat, tetapi membawa pesan yang lebih dalam tentang hubungan manusia, air, bumi dan Sang Pencipta.
“Sholawat untuk Bumi” lahir dari sebuah kesadaran bahwa air tidak sekadar benda yang mengalir dari hulu menuju hilir. Air adalah bagian dari kehidupan manusia. Dari air pertanian memperoleh penghidupan, masyarakat memperoleh kebutuhan sehari hari, dan ekosistem mempertahankan kehidupannya. Karena itu, ketika manusia menjaga air, sesungguhnya manusia sedang menjaga salah satu fondasi kehidupan itu sendiri.
Di sinilah makna filosofis Sholawat untuk Bumi menemukan tempatnya. Sholawat merupakan ekspresi kecintaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Sementara bumi adalah ruang kehidupan yang diamanahkan kepada manusia untuk dijaga. Ketika keduanya dipertemukan dalam satu ungkapan, “Sholawat untuk Bumi” menjadi simbol bahwa kesalehan spiritual tidak berhenti pada hubungan vertikal antara manusia dan Allah SWT, tetapi juga menemukan perwujudannya dalam hubungan horizontal manusia dengan sesama dan dengan alam.
Bumi dalam kegiatan ini bukan sekadar tanah yang kita pijak. Bumi adalah rumah bersama. Sungai bukan sekadar saluran air. Sungai adalah bagian dari sistem kehidupan. Mata air bukan hanya titik keluarnya air dari tanah, tetapi merupakan awal dari perjalanan kehidupan yang menghubungkan kawasan hulu, pertanian, permukiman dan masyarakat di sepanjang alirannya.
Karena itu, lantunan sholawat di tepi sungai memiliki pesan yang kuat: doa tidak dipisahkan dari ikhtiar. Kesadaran spiritual tidak berhenti pada kata kata, tetapi diterjemahkan dalam tindakan. Membersihkan sungai menjadi bentuk nyata dari penghormatan terhadap kehidupan. Menanam pohon di sekitar sumber mata air menjadi bentuk tanggung jawab terhadap keberlanjutan. Dan sholawat menjadi pengingat bahwa seluruh ikhtiar manusia pada akhirnya berada dalam kesadaran sebagai makhluk yang memiliki hubungan dengan Sang Pencipta.
Bagi HIPPA Desa Serut, gagasan tersebut memiliki hubungan langsung dengan kehidupan para petani. HIPPA merupakan wadah masyarakat pengguna air yang keberadaannya sangat berkaitan dengan keberlanjutan sumber daya air untuk pertanian.
Ketua HIPPA Desa Serut, Samsul Arifin, menyampaikan bahwa menjaga air harus dimulai dari kesadaran masyarakat yang menggunakan air itu sendiri.
“Air adalah bagian dari kehidupan petani. Kalau kita hanya mengambil air tetapi tidak ikut menjaga sumber dan sungainya, maka kita sedang mengambil manfaat dari sesuatu yang tidak kita rawat. Sholawat untuk Bumi menjadi pengingat bahwa air ini harus kita syukuri sekaligus kita jaga. Harapannya masyarakat tidak hanya datang ketika membutuhkan air, tetapi juga hadir untuk merawat sumber kehidupan itu.”
Samsul Arifin Ketua HIPPA Desa Serut
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa filosofi Sholawat untuk Bumi tidak berhenti pada simbol, tetapi memiliki konsekuensi sosial. Rasa syukur terhadap air perlu diwujudkan dalam perilaku menjaga kebersihan sungai, memelihara lingkungan sekitar sumber mata air dan membangun kesadaran bersama mengenai penggunaan air secara bertanggung jawab.
Dari sisi pengelolaan sumber daya air, KORsDA Rambipuji melihat pentingnya membangun hubungan antara masyarakat, air dan lingkungan dalam satu kesadaran bersama.
Koordinator Sumber Daya Air Rambipuji, Mohamad Yasin, S.AP., menyampaikan bahwa keberlanjutan sumber daya air tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan teknis, tetapi membutuhkan kesadaran masyarakat yang tumbuh dari tingkat paling bawah.
“Air itu menghubungkan semuanya. Dari sumber mata air, mengalir ke sungai, kemudian dimanfaatkan masyarakat dan petani. Karena itu menjaga air tidak bisa dilakukan hanya oleh satu pihak. Harus ada kesadaran bersama antara masyarakat pengguna air, pengelola, pemerintah dan generasi muda. Sholawat untuk Bumi menurut saya menjadi cara yang baik untuk mempertemukan kesadaran spiritual dengan tindakan nyata menjaga lingkungan.”
Mohamad Yasin, S.AP. Koordinator Sumber Daya Air Rambipuji
Menurutnya, kegiatan bersih sungai dan penanaman pohon menjadi bagian penting karena memberikan pesan bahwa menjaga sumber daya air harus dimulai dari ekosistem yang menopangnya.
Rangkaian kegiatan Sholawat untuk Bumi diawali pada Sabtu pagi melalui aksi bersih sungai di kawasan Sungai Warna Warni, tidak jauh dari lokasi utama kegiatan. Masyarakat bersama para pelajar membersihkan sampah yang berada di sepanjang aliran sungai.
Siswa dan siswi SMA Argopuro turut terlibat secara langsung dalam kegiatan tersebut. Kehadiran pelajar memberikan dimensi pendidikan yang kuat karena mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai lingkungan melalui pembelajaran di kelas, tetapi mengalami sendiri bagaimana sebuah sungai dirawat.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penanaman pohon di sekitar sumber mata air. Penanaman tersebut menjadi simbol bahwa menjaga air tidak hanya berarti menjaga air yang sudah mengalir, tetapi juga menjaga ruang ekologis yang menjadi bagian dari keberadaan sumber air tersebut.
Kepala SMA Argopuro, Irham Fidaruzziar, S.ST., M.Tr.P., yang turut melibatkan siswa dalam kegiatan tersebut, melihat keterlibatan pelajar sebagai bagian dari pendidikan yang menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman dan tanggung jawab.
“Anak anak perlu memahami bahwa air bukan sesuatu yang tiba tiba hadir ketika kita membuka keran. Ada sumber, ada sungai, ada vegetasi dan ada masyarakat yang selama ini menjaga serta memanfaatkannya. Ketika siswa turun langsung membersihkan sungai dan menanam pohon, mereka sedang belajar bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab sebagai manusia.”
Irham Fidaruzziar, S.ST., M.Tr.P. Kepala SMA Argopuro
Menurut Irham, pendidikan lingkungan akan menjadi lebih bermakna ketika siswa dapat melihat hubungan antara pengetahuan, kehidupan masyarakat dan kondisi lingkungan di sekitarnya. Sungai yang mereka bersihkan hari ini merupakan bagian dari ekosistem yang juga menentukan keberlanjutan kehidupan masyarakat di masa mendatang.
Pada Sabtu malam, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan lantunan Sholawat untuk Bumi yang diikuti oleh para ulu ulu, masyarakat Kecamatan Panti dan masyarakat dari wilayah sekitarnya.
Malam tersebut menjadi ruang refleksi bersama. Setelah pada pagi hari tangan bergerak membersihkan sungai dan menanam pohon, pada malam harinya suara sholawat dilantunkan sebagai ungkapan syukur, doa dan pengingat spiritual.
Di dalam filosofi kegiatan ini terdapat satu gagasan penting: manusia tidak berada di luar alam. Manusia adalah bagian dari bumi. Kehidupan manusia bergantung pada air, tanah, udara, tumbuhan dan seluruh jaringan kehidupan yang ada di dalamnya. Karena itu, merusak alam pada akhirnya akan kembali menjadi persoalan bagi kehidupan manusia sendiri.
Sholawat untuk Bumi kemudian menjadi semacam jembatan kesadaran. Dari manusia menuju Sang Pencipta melalui doa, dari manusia menuju sesama melalui gotong royong, dan dari manusia menuju bumi melalui tindakan merawat lingkungan.
Dalam kerangka tersebut, “bumi” bukan objek yang hanya dimanfaatkan, melainkan ruang kehidupan yang memiliki tanggung jawab moral untuk dijaga. “Sholawat” bukan sekadar lantunan, tetapi menjadi pengingat nilai tentang kasih sayang, keseimbangan, amanah dan penghormatan terhadap kehidupan.
Kegiatan di Sungai Warna Warni Desa Serut pada akhirnya membawa pesan sederhana tetapi mendalam: spiritualitas dan ekologi tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang terpisah. Kesadaran kepada Sang Pencipta dapat menemukan bentuk nyatanya melalui cara manusia memperlakukan bumi.
Ketika masyarakat membersihkan sungai, ketika petani menjaga air yang menghidupi sawahnya, ketika siswa menanam pohon di sekitar sumber mata air, dan ketika masyarakat bersama sama melantunkan sholawat, seluruh rangkaian itu menjadi satu pesan yang sama: bersyukur atas kehidupan sekaligus menjaga kehidupan.
Sholawat untuk Bumi menjadi pengingat bahwa air adalah amanah, bumi adalah ruang kehidupan, dan manusia memiliki tanggung jawab untuk merawat keduanya.
Dari sumber mata air, kehidupan mengalir.
Dari kesadaran, lahir kepedulian.
Dari doa, lahir ikhtiar.
Dan dari ikhtiar bersama, tumbuh harapan agar bumi tetap menjadi rumah bagi generasi hari ini dan generasi yang akan datang.