Ubi Jalar Gebang Langkap Dikembangkan Menjadi Tepung Pangan Alternatif, Perkuat Potensi Pangan Lokal Desa Panti

bu rati2

Kolaborasi Polije dan Masyarakat Panti Kembangkan Ubi Jalar Gebang Langkap Jadi Pangan Bernilai Tambah

PANTI, JEMBER — Dusun Gebang Langkap, Desa Panti, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, memiliki potensi pertanian lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk pangan bernilai tambah. Salah satunya adalah ubi jalar, komoditas yang selama ini dimanfaatkan masyarakat dalam bentuk segar dan kini mulai dikembangkan menjadi bahan pangan yang memiliki daya simpan lebih panjang.

Potensi tersebut dikembangkan melalui kolaborasi masyarakat Desa Panti dengan Politeknik Negeri Jember (Polije) melalui kegiatan yang melibatkan Ratih Putri Damayati, S.Gz., M.Si., dosen bidang kesehatan dan gizi Politeknik Negeri Jember, bersama tim.

Program ini tidak hanya melihat ubi jalar sebagai hasil pertanian, tetapi juga mencoba mengembangkan rantai pemanfaatannya agar memiliki nilai tambah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengolah ubi jalar menjadi tepung ubi jalar yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan dasar berbagai produk pangan, termasuk olahan kue.

Pengolahan menjadi tepung menjadi salah satu alternatif untuk memperpanjang masa simpan ubi jalar sekaligus meningkatkan fleksibilitas pemanfaatannya. Jika dalam kondisi segar ubi jalar memiliki keterbatasan dalam penyimpanan, dalam bentuk tepung bahan tersebut dapat disimpan dan digunakan kembali sebagai bahan baku berbagai produk pangan.

WhatsApp Image 2026 10 03 at 16.03.56 1

Menghubungkan Pangan Lokal dengan Perspektif Kesehatan

Ratih Putri Damayati, S.Gz., M.Si., menjelaskan bahwa potensi ubi jalar Gebang Langkap dapat dikembangkan lebih jauh karena memiliki peluang untuk masuk ke dalam inovasi pangan masyarakat.

“Yang kita lihat bukan hanya ubi jalarnya, tetapi bagaimana potensi yang sudah ada di masyarakat ini bisa dikembangkan menjadi produk yang lebih tahan disimpan dan lebih beragam pemanfaatannya. Ketika diolah menjadi tepung, ubi jalar dapat digunakan sebagai bahan dasar berbagai makanan, termasuk kue dan pangan alternatif,” jelas Ratih.

Menurutnya, aspek kesehatan juga menjadi bagian penting dalam pengembangan produk tersebut. Tepung ubi jalar dapat digunakan dalam formulasi berbagai makanan, termasuk produk yang dikembangkan dengan penggunaan gula yang lebih terkontrol.

“Kita juga ingin memperkenalkan bahwa pengembangan pangan lokal bisa berjalan bersama dengan edukasi kesehatan. Penggunaan tepung ubi jalar tidak otomatis membuat makanan menjadi rendah gula, tetapi bahan ini dapat menjadi bagian dari formulasi makanan alternatif dengan pengaturan jumlah gula dan komposisi bahan yang lebih diperhatikan,” tambahnya.

Pendekatan tersebut menjadi penting agar inovasi pangan tidak hanya mengejar bentuk produk, tetapi juga mempertimbangkan kandungan dan pola konsumsi masyarakat.

Pemerintah Dusun Melihat Peluang Pengembangan

Dukungan terhadap pengembangan potensi ubi jalar juga disampaikan Nurul Hidayah, Pak Kampung Dusun Gebang Langkap, sebagai representasi pemerintah desa di tingkat kewilayahan.

Menurut Nurul, potensi ubi jalar yang telah ada di masyarakat perlu mendapatkan pendampingan agar tidak berhenti sebagai komoditas pertanian biasa.

“Ubi jalar ini sebenarnya sudah menjadi bagian dari potensi masyarakat. Dengan adanya pendampingan dari Politeknik Negeri Jember, kami mendapatkan gambaran bahwa hasil pertanian ini masih bisa dikembangkan menjadi produk lain. Harapannya masyarakat tidak hanya menjual hasil panen, tetapi juga bisa mengolahnya sehingga mempunyai nilai tambah,” ujar Nurul Hidayah.

Ia juga berharap kolaborasi dengan perguruan tinggi dapat terus berlanjut sehingga masyarakat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

“Kami berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada satu kegiatan saja. Kalau masyarakat sudah bisa mengolah, kemudian produknya bisa dikembangkan dan dipasarkan, tentu akan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Gebang Langkap,” tambahnya.

pengbdian bu ratih

Alumni Polije Menjadi Penghubung Kolaborasi

Kolaborasi antara Desa Panti dan Politeknik Negeri Jember dalam pengembangan potensi lokal tersebut juga diperkuat oleh keterlibatan Irham Fidaruzziar, S.ST., M.Tr.P., sebagai PIC program sekaligus penghubung antara masyarakat Desa Panti dan Politeknik Negeri Jember.

Irham berperan dalam menjembatani komunikasi dan kebutuhan program antara pihak desa dengan tim Politeknik Negeri Jember, sehingga potensi yang dimiliki masyarakat dapat dipertemukan dengan pengetahuan dan pendampingan dari perguruan tinggi.

Menariknya, Irham Fidaruzziar dan Nurul Hidayah sama-sama merupakan alumni Politeknik Negeri Jember. Keterlibatan alumni dalam kolaborasi ini menjadi salah satu penguat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat di wilayah asalnya.

“Kita ingin potensi Desa Panti tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang ada, tetapi bagaimana potensi tersebut bisa dikembangkan menjadi pengetahuan, produk, dan peluang baru bagi masyarakat. Ubi jalar Gebang Langkap merupakan salah satu contoh. Ada komoditasnya, ada masyarakat yang mengolah, kemudian ada pengetahuan dari perguruan tinggi yang bisa memperkuat proses pengembangannya,” ujar Irham.

Menurut Irham, kolaborasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih dekat antara perguruan tinggi dengan masyarakat desa.

“Politeknik Negeri Jember memiliki sumber daya pengetahuan dan keahlian, sementara masyarakat memiliki potensi dan pengalaman lokal. Tugas kita adalah mempertemukan keduanya. Alumni juga bisa mengambil peran sebagai jembatan agar kolaborasi tersebut lebih mudah berjalan,” katanya.

Dari Ubi Jalar Menjadi Ekosistem Pangan Lokal

Pengembangan ubi jalar menjadi tepung membuka kemungkinan yang lebih luas bagi Desa Panti. Produk tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai olahan pangan, sekaligus menjadi bahan untuk memperkenalkan pola pengolahan makanan yang lebih memperhatikan aspek kesehatan.

Ke depan, pengembangan potensi ini dapat diarahkan tidak hanya pada produksi tepung, tetapi juga pada peningkatan kualitas pengolahan, pengembangan resep, keamanan pangan, pengemasan, pemasaran, hingga kemungkinan terbentuknya kelompok usaha berbasis pangan lokal.

Dengan demikian, ubi jalar Gebang Langkap tidak hanya berhenti sebagai hasil pertanian, tetapi dapat menjadi bagian dari rantai nilai pangan lokal Desa Panti.

Kolaborasi masyarakat, pemerintah desa, perguruan tinggi, dan alumni tersebut menunjukkan bahwa pengembangan potensi desa dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana dan telah tersedia di lingkungan masyarakat.

Dari ubi jalar Gebang Langkap, Desa Panti sedang membuka ruang untuk mengembangkan pangan lokal yang lebih tahan simpan, bernilai tambah, dan dapat dikembangkan dengan perspektif kesehatan masyarakat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *