Ekspedisi Tirta Pitu Panti Angkat Tilik Sumber Sebagai gerakan konservasi di Lereng Argopuro

Terinspirasi dari tradisi Tilik Sumber yang diangkat kembali narasinya oleh Rumah Tunjung Indonesia, ekspedisi lintas perguruan tinggi ini mempertemukan penjelajahan ekologi, kajian sosial-budaya, edukasi kesehatan, dan kolaborasi pelestarian sumber air di lereng Gunung Hyang Argopuro.

WhatsApp Image 2026 10 25 at 09.52.54 edited

PANTI, JEMBER — Sebanyak 35 mahasiswa dari tiga perguruan tinggi di Jember mengikuti Ekspedisi Tirta Pitu Panti pada 24–25 Oktober 2026. Kegiatan selama dua hari ini memadukan penelusuran mata air, pengamatan kondisi lingkungan, pendokumentasian pengetahuan lokal, serta edukasi lingkungan kepada siswa sekolah dasar di Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Rangkaian kegiatan ditutup dengan sarasehan di Puncak Wisata Boma, kawasan Gunung Pasang, yang menghasilkan kesepahaman kerja sama antara Mapala UIN KHAS Jember dan Rumah Tunjung Indonesia melalui nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU).

Mahasiswa yang terlibat berasal dari Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Universitas Jember (UNEJ), dan Politeknik Negeri Jember (Polije). Ekspedisi dikoordinatori oleh Rizal, Ketua Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UIN KHAS Jember, dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu.

WhatsApp Image 2026 10 27 at 06.53.56

Kegiatan ini terinspirasi dari tradisi Tilik Sumber yang kembali diangkat narasinya oleh Rumah Tunjung Indonesia. Tradisi menengok sumber air tersebut menjadi pintu masuk untuk membaca kembali hubungan manusia dengan alam sekaligus mempertemukan pengetahuan lokal, pendekatan ilmiah, dan pendidikan lingkungan.

Ekspedisi Tirta Pitu Panti tidak sekadar menjadi perjalanan menelusuri medan. Kegiatan ini merupakan ruang belajar bersama untuk memahami mata air sebagai bagian dari sistem ekologis dan kehidupan sosial masyarakat. Keberadaan sumber air berkaitan dengan kondisi kawasan tangkapan air, vegetasi, tanah, tata guna lahan, serta cara masyarakat memanfaatkan dan menjaga air dalam kehidupan sehari-hari.

Di bawah koordinasi Rizal, tim pecinta alam melakukan pengamatan terhadap kondisi fisik lingkungan, navigasi dan keselamatan medan, tutupan vegetasi, serta karakteristik kawasan tangkapan air (water catchment area). Pengamatan tersebut menjadi langkah awal untuk mengenali kondisi lapangan dan mengidentifikasi persoalan yang membutuhkan kajian lebih lanjut.

WhatsApp Image 2026 10 27 at 06.54.59 edited

“Bagi kami, ekspedisi ini bukan hanya tentang perjalanan menelusuri mata air atau menghadapi medan. Kami ingin belajar memahami kondisi lingkungan secara langsung, mengenali persoalan yang ada, sekaligus membangun kesadaran bahwa menjaga alam membutuhkan pengetahuan dan tanggung jawab bersama.”

— Rizal, Ketua Mapala UIN KHAS Jember

Sementara itu, keterlibatan mahasiswa Sosiologi Budaya UNEJ memperluas penelusuran dari aspek fisik lingkungan menuju hubungan antara air dan kehidupan masyarakat. Praktik gotong royong, pola pemanfaatan air, tata kelola lokal, hingga nilai spiritual dan kebudayaan menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana masyarakat membangun relasi dengan sumber air di sekitarnya.

Nisa, mahasiswa Sosiologi Budaya UNEJ, memandang mata air sebagai ruang yang memiliki dimensi ekologis sekaligus sosial-budaya. Pengetahuan masyarakat dan cerita yang diwariskan antargenerasi menjadi bagian penting dalam memahami sejarah serta praktik pengelolaan sumber air.

“Mata air tidak hanya memiliki arti ekologis, tetapi juga mempunyai hubungan dengan kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat. Di sekitar sumber air, kita dapat mempelajari gotong royong, kebiasaan bersama, cerita yang diwariskan antargenerasi, dan cara masyarakat membangun hubungan dengan lingkungannya.”

— Nisa, mahasiswa Sosiologi Budaya UNEJ

Melalui pendekatan tersebut, cerita lisan tidak semata-mata diperlakukan sebagai kisah masa lalu, tetapi juga sebagai sumber informasi yang perlu didokumentasikan dan ditelusuri. Keterangan masyarakat mengenai sejarah, pemanfaatan, dan hubungan antarmata air perlu dibandingkan dengan sumber informasi lain agar dapat dibedakan secara jelas antara pengetahuan lokal, temuan lapangan, dan fakta yang telah terverifikasi.

Perspektif lain hadir melalui keterlibatan Yeza, mahasiswa Program Studi Promosi Kesehatan Polije. Dalam pendekatan promosi kesehatan, perlindungan sumber air berkaitan erat dengan sanitasi, pencegahan pencemaran, serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Kesadaran mengenai air tidak hanya diperlukan di kawasan sumber, tetapi juga dalam kebiasaan masyarakat menggunakan dan menjaga air setiap hari.

“Kesadaran menjaga air perlu dibangun sejak dini karena air berkaitan erat dengan kehidupan dan kesehatan. Edukasi lingkungan menjadi salah satu cara untuk mengajak masyarakat, terutama anak-anak, memahami pentingnya menjaga kebersihan sumber air, menggunakan air secara bijak, dan membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat.”

— Yeza, mahasiswa Program Studi Promosi Kesehatan Polije

Semangat tersebut diwujudkan melalui kegiatan edukasi di SDN Kemuningsari Lor 02 dan SDN Kemiri 01. Kehadiran mahasiswa di sekolah menjadi bagian penting dari ekspedisi karena upaya menjaga sumber air tidak cukup dilakukan melalui pengamatan dan penelusuran alam, tetapi juga membutuhkan pendidikan yang menumbuhkan kesadaran sejak dini.

Melalui kegiatan ini, para siswa diajak mengenali pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, mencegah pencemaran air, menggunakan air secara bijak, serta membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat. Sekolah menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan akademik dan kehidupan sehari-hari, tempat pesan pelestarian lingkungan dapat diperkenalkan melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan anak-anak.

Mengusung konsep Tirta Pitu atau tujuh sumber air, ekspedisi ini menggunakan inventarisasi awal tujuh titik mata air sebagai kerangka penelusuran. Ketujuh titik tersebut meliputi Sumber Tunjung di Desa Panti, Sumber Suci di Desa Suci, Sumber Kembar di wilayah Pakis, Sumber Kemiri di Desa Kemiri, Balong Keramat di Kemuningsari Lor, Sumber Waduk di Glagahwero, serta Sumber Suko di Serut.

Inventarisasi tersebut menjadi dasar untuk mengenali karakteristik setiap lokasi, kondisi vegetasi di sekitarnya, pola pemanfaatan air, serta nilai sejarah dan budaya yang berkembang di masyarakat. Data mengenai koordinat, debit musiman, kondisi lahan, dan hubungan hidrologis antarsumber masih memerlukan verifikasi lebih lanjut. Dengan demikian, daftar tujuh titik ini merupakan kerangka awal pendokumentasian, bukan pernyataan bahwa seluruh sumber telah terbukti terhubung dalam satu sistem aliran air.

Setelah menjalani rangkaian kegiatan selama dua hari, ekspedisi ditutup pada Minggu (25/10/2026) melalui sarasehan bersama di Puncak Wisata Boma, kawasan Gunung Pasang, yang berada dalam lingkungan Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Kahyangan. Forum ini menjadi ruang refleksi atas perjalanan, pembahasan hasil pengamatan, dan pertukaran pandangan mengenai persoalan serta potensi pelestarian sumber air di Kecamatan Panti.

Salah satu capaian konkret sarasehan tersebut adalah terbangunnya kesepahaman antara Mapala UIN KHAS Jember dan Rumah Tunjung Indonesia yang dituangkan melalui nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU). Kerja sama ini menjadi pijakan awal untuk memperkuat kolaborasi dalam kegiatan penjelajahan dan pendokumentasian sumber mata air, pendidikan lingkungan, pengembangan pengetahuan ekologis, serta kegiatan berbasis masyarakat.

Kesepahaman ini juga membuka ruang bagi pengembangan kegiatan pecinta alam yang tidak berhenti pada penjelajahan dan pengalaman lapangan, tetapi berlanjut pada dokumentasi, pembelajaran, dan upaya penjagaan lingkungan secara berkelanjutan. Pengalaman mahasiswa dalam pengamatan lapangan dapat dipertemukan dengan gerakan Rumah Tunjung Indonesia yang mengangkat kembali narasi Tilik Sumber sebagai pintu masuk untuk memperkuat kesadaran ekologis dan merawat hubungan masyarakat dengan sumber air.

Melalui kolaborasi tersebut, hasil pengamatan ekspedisi diharapkan dapat menjadi bahan awal untuk menyusun dokumentasi kondisi mata air, mengidentifikasi persoalan lingkungan, dan merumuskan kebutuhan penelitian lanjutan. Edukasi di sekolah juga menjadi bagian dari upaya memperluas kesadaran bahwa keberlanjutan air membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari komunitas mahasiswa, masyarakat, hingga lingkungan pendidikan.

Bagi Rumah Tunjung Indonesia, kerja sama ini merupakan kesempatan untuk memperluas partisipasi generasi muda dalam agenda penjagaan sumber air di lereng Gunung Hyang Argopuro. Sementara bagi Mapala UIN KHAS Jember, kemitraan tersebut membuka peluang untuk memperkaya kegiatan pecinta alam melalui pendekatan yang menghubungkan penjelajahan, pengetahuan ilmiah, kebudayaan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ekspedisi Tirta Pitu Panti pada akhirnya menjadi titik temu antara sains ekologi, pengetahuan lokal, kesehatan masyarakat, dan pendidikan. Terinspirasi dari Tilik Sumber, kegiatan ini menegaskan bahwa upaya menjaga mata air tidak hanya berkaitan dengan perlindungan lingkungan secara fisik, tetapi juga dengan cara masyarakat memahami, memanfaatkan, dan merawat sumber air sebagai bagian dari kehidupan bersama.

Penandatanganan MoU antara Mapala UIN KHAS Jember dan Rumah Tunjung Indonesia menjadi langkah awal untuk menerjemahkan kesepahaman tersebut ke dalam program nyata. Keberlanjutan kerja sama selanjutnya akan bergantung pada perumusan agenda bersama, pembagian peran, dan pelaksanaan kegiatan yang terukur sesuai kebutuhan lapangan.

Melalui semangat Tilik Sumber, mata air tidak hanya dipandang sebagai sumber daya yang dimanfaatkan, tetapi juga sebagai penyangga kehidupan dan warisan ekologis yang perlu dipahami, dijaga, serta diwariskan kepada generasi berikutnya.

Rumah Tunjung Indonesia merupakan gerakan masyarakat yang berfokus pada hubungan antara lingkungan, sosial, budaya, dan pendidikan. Melalui pengangkatan kembali narasi Tilik Sumber dan berbagai inisiatif berbasis masyarakat, Rumah Tunjung Indonesia mendorong penguatan kesadaran ekologis serta pelestarian mata air di kawasan lereng Gunung Hyang Argopuro.

Wujud Sabda Alam. Ekspedisi Tirta Pitu Panti

kata kunci : Konservasi mata air Panti Jember. Tilik Sumber. Rumah Tunjung Indonesia. Tujuh sumber mata air Panti. Ekologi Gunung Hyang Argopuro. Literasi air dan pendidikan lingkungan

#EkspedisiTirtaPituPanti #TilikSumber #KonservasiMataAir #RumahTunjungIndonesia #LiterasiAir #EkologiArgopuro #WujudSabdaAlam

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *