Pengabdian Masyarakat Polije Dorong Pengelolaan Pariwisata dan Branding Desa Panti

Workshop Pariwisata dan Branding Desa Diperkuat dengan Papan Informasi Sumber Tunjung sebagai Situs Budaya serta Teras Argopuro di Dusun Prapah

DSC08025

JEMBER, 4 Oktober 2026 — Upaya memperkuat potensi pariwisata berbasis masyarakat di Desa Panti terus dilakukan melalui kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat. Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Politeknik Negeri Jember (Polije) yang diketuai Fuad Nasir, S.I.Kom., M.I.Kom., bersama tim dosen, menggelar workshop pengelolaan pariwisata dan branding desa sekaligus memberikan dukungan sarana informasi di kawasan Sumber Tunjung dan Teras Argopuro, Dusun Prapah, Desa Panti, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember.

Kegiatan ini diarahkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bagaimana potensi desa dapat dikelola, dikomunikasikan, dan diperkenalkan kepada masyarakat secara lebih baik. Pengelolaan pariwisata tidak hanya berkaitan dengan keberadaan sebuah destinasi, tetapi juga bagaimana identitas, cerita, nilai budaya, dan potensi lingkungan yang dimiliki desa dapat disampaikan kepada pengunjung.

Workshop Pengelolaan Pariwisata dan Branding Desa

Dalam kegiatan pengabdian tersebut, tim dosen Polije memberikan workshop yang membahas pengelolaan pariwisata dan branding desa. Masyarakat didorong untuk melihat potensi lokal sebagai bagian dari identitas desa yang perlu dirawat sekaligus dikembangkan.

Branding desa menjadi penting agar potensi yang dimiliki Desa Panti tidak hanya dikenal melalui keberadaan tempatnya, tetapi juga melalui cerita, identitas, budaya, lingkungan, dan pengalaman yang dapat diperoleh masyarakat maupun pengunjung.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Polije, Fuad Nasir, S.I.Kom., M.I.Kom., mengatakan bahwa pengembangan pariwisata perlu dibangun bersama masyarakat dan bertumpu pada potensi yang sudah dimiliki desa.

“Kami ingin pengembangan pariwisata tidak berhenti pada pembangunan fisik. Masyarakat perlu memiliki pemahaman bagaimana sebuah potensi desa dikelola, dikemas, dan dikomunikasikan sehingga memiliki identitas yang kuat. Karena itu, workshop ini menjadi bagian dari proses membangun kapasitas masyarakat,” ujar Fuad.

Menurutnya, branding desa dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkenalkan karakter dan potensi lokal secara lebih terarah.

DSC08141

Papan Informasi Sumber Tunjung

Sebagai bagian dari kegiatan pengabdian, tim Polije juga memberikan papan informasi Sumber Tunjung yang ditempatkan sebagai media informasi mengenai Sumber Tunjung sebagai situs budaya tradisi penjagaan sumber mata air Tunjung.

Papan informasi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat dan pengunjung memahami bahwa Sumber Tunjung tidak hanya memiliki nilai sebagai sumber air, tetapi juga memiliki nilai budaya dan tradisi masyarakat dalam menjaga sumber mata air.

Informasi yang disampaikan menjadi bagian penting dalam memperkenalkan sejarah, nilai, dan praktik budaya yang berkembang di sekitar sumber kepada generasi muda maupun pengunjung.

Dengan demikian, keberadaan papan informasi bukan sekadar penanda lokasi, tetapi juga menjadi media edukasi publik yang menghubungkan aspek lingkungan dengan pengetahuan budaya masyarakat.

Memperkuat Identitas Teras Argopuro

Selain papan informasi Sumber Tunjung, tim pengabdian juga memberikan papan informasi kawasan Teras Argopuro yang berada di Dusun Prapah, Desa Panti.

DSC08162

Teras Argopuro dikembangkan sebagai ruang yang mempertemukan masyarakat, pendidikan, lingkungan, dan potensi wisata kawasan lereng Argopuro. Keberadaan papan informasi diharapkan membantu pengunjung mengenali kawasan sekaligus memahami fungsi dan potensi yang ada di dalamnya.

Menurut Irham Fidaruzziar, yang turut menjadi penghubung kolaborasi Polije dengan pihak Desa Panti sekaligus Founder Rumah Tunjung Indonesia, penguatan informasi menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman pengunjung sekaligus menjaga narasi lokal.

“Sumber Tunjung dan Teras Argopuro memiliki cerita dan karakter masing-masing. Papan informasi ini penting agar masyarakat dan pengunjung tidak hanya datang dan melihat tempatnya, tetapi juga memahami nilai budaya, lingkungan, serta proses yang sedang dibangun bersama masyarakat,” ungkap Irham.

Kolaborasi untuk Pariwisata Berbasis Potensi Lokal

Kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa pengembangan desa dapat dilakukan melalui kombinasi pengetahuan, pendampingan, komunikasi, dan penguatan identitas lokal.

Kolaborasi antara Polije, Pemerintah Desa Panti, masyarakat, dan berbagai pihak diharapkan dapat terus dikembangkan melalui kegiatan pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, pengembangan destinasi, promosi, serta penguatan kapasitas masyarakat.

Fuad menambahkan bahwa keberlanjutan program membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai bagian utama dalam pengelolaan potensi desa.

“Perguruan tinggi dapat memberikan pengetahuan dan pendampingan, tetapi keberlanjutan pengelolaan tetap berada di tangan masyarakat. Karena itu, kami berharap kegiatan ini menjadi awal dari kolaborasi yang lebih panjang untuk mengembangkan potensi Desa Panti,” kata Fuad.

Melalui workshop dan dukungan sarana informasi tersebut, pengabdian masyarakat Polije di Desa Panti diharapkan dapat memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan pariwisata, branding desa, serta pentingnya menjaga nilai budaya dan lingkungan sebagai bagian dari identitas Desa Panti.

Dari potensi lokal, membangun identitas desa. Dari kolaborasi, menguatkan pariwisata yang berbasis masyarakat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *