Musyawarah Antar Desa Kecamatan Panti Sepakati Festival Sumber Tunjung (7 desa yang di Junjung) Menjadi Agenda Tahunan

Panti, Jember — Semangat kolaborasi antar desa dalam menjaga kelestarian sumber mata air kembali diperkuat melalui kegiatan Musyawarah Antar Desa (MAD) Kecamatan Panti yang diinisiasi oleh Pemerintah Kecamatan Panti bersama Rumah Tunjung Indonesia. Kegiatan ini mempertemukan tujuh desa di lereng selatan Gunung Hyang Argopuro, yaitu Desa Panti, Desa Pakis, Desa Kemuningsari Lor, Desa Glagahwero, Desa Suci, Desa Kemiri, dan Desa Serut.

Musyawarah yang berlangsung penuh semangat kebersamaan tersebut membahas penguatan gerakan pelestarian sumber mata air melalui program budaya dan lingkungan bertajuk Festival Sumber Tunjung. Forum ini menjadi momentum penting karena seluruh kepala desa yang hadir menyatakan komitmen bersama untuk menjadikan Festival Sumber Tunjung sebagai agenda tahunan lintas desa di Kecamatan Panti.

Selain itu, musyawarah juga menghasilkan kesepakatan pembentukan Peraturan Bersama Kepala Desa (Permakades) sebagai dasar hukum pelaksanaan program bersama antar desa dalam menjaga sumber mata air, memperkuat budaya lokal, serta membangun pendidikan lingkungan berbasis masyarakat.

Sebagai langkah implementasi dari Permakades tersebut, forum juga menyepakati pembentukan Badan Kerja Sama Antar Desa (BKAD) yang nantinya bertugas mengoordinasikan pelaksanaan program, pengelolaan kegiatan Festival Sumber Tunjung, hingga penguatan kolaborasi antar desa dalam bidang lingkungan, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam forum tersebut, Ketua Rumah Tunjung Indonesia, Irham Fidaruzziar, turut mempresentasikan filosofi dan makna mendalam Festival Sumber Tunjung. Ia menjelaskan bahwa festival bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan gerakan budaya masyarakat lereng selatan Argopuro untuk merawat hubungan manusia dengan alam, khususnya sumber mata air yang menjadi penopang kehidupan masyarakat desa.

Menurutnya, setiap sumber mata air di tujuh desa memiliki nilai sejarah, spiritualitas, dan pengetahuan lokal yang selama ini diwariskan turun-temurun. Festival Sumber Tunjung hadir sebagai ruang untuk menghidupkan kembali kesadaran kolektif masyarakat bahwa menjaga air berarti menjaga masa depan desa.

“Festival Sumber Tunjung bukan hanya tentang perayaan budaya, tetapi tentang bagaimana masyarakat desa kembali mengingat bahwa air adalah sumber kehidupan yang harus dijaga bersama. Dari mata air, lahir pertanian, tradisi, hingga kehidupan sosial masyarakat,” ungkap Irham dalam presentasinya.

Kegiatan musyawarah ini juga dihadiri unsur pemerintah desa, tokoh masyarakat, pegiat lingkungan, pemuda desa, serta berbagai elemen masyarakat yang mendukung lahirnya kerja sama lintas desa berbasis pelestarian sumber daya alam dan budaya lokal.

Dengan lahirnya kesepakatan bersama ini, Kecamatan Panti diharapkan menjadi contoh model kolaborasi antar desa dalam menjaga kawasan sumber mata air melalui pendekatan budaya, pendidikan, dan gotong royong masyarakat.

Tunjung Institut/red./Tunjung.id

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *