Air yang Dijunjung, Alam yang Dipertaruhkan: Belajar dari Penjagaan Sumber Suci di Lereng Selatan Argopuro

Prosesi pengambilan Air Disumber Suci Desa Suci Kecamatan Panti Kabupaten Jember

JEMBER- Desa Suci di Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, berdiri tenang di lereng selatan Gunung Hyang Argopuro, sebuah kawasan yang sejak lama dikenal sebagai penyangga kehidupan bagi wilayah di bawahnya. Dengan bentang alam perbukitan pada ketinggian sekitar 450 hingga 700 meter di atas permukaan laut, desa ini memiliki karakter ekologis yang khas: udara yang relatif sejuk, tanah yang subur, dan yang paling penting ketersediaan sumber air dari kawasan hulu.

Secara administratif, Desa Suci memiliki wilayah sekitar 60 km² dengan jumlah penduduk lebih dari 12 ribu jiwa. Permukiman tersebar dalam beberapa dusun seperti Glundengan, Glengseran, dan Gaplek, mengikuti kontur alam serta kedekatan dengan sumber-sumber air. Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan, mulai dari padi, palawija, hingga komoditas seperti kopi dan kakao. Di sisi lain, geliat ekonomi juga tumbuh dari sektor wisata alam, seperti kawasan Air Terjun Tancak yang mulai menarik kunjungan dari luar desa.

Di tengah kehidupan yang bergantung pada alam tersebut, terdapat Sumber Suci sebuah mata air yang tidak hanya berfungsi sebagai penyedia air, tetapi juga memiliki makna yang jauh lebih dalam bagi masyarakat. Air dari sumber ini mengalir untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus mengairi lahan pertanian. Namun bagi warga Desa Suci, nilai sumber ini tidak berhenti pada fungsi praktisnya. Ia dipandang sebagai bagian dari warisan leluhur yang harus dijaga, dihormati, dan dirawat bersama.

Keyakinan itu terwujud dalam tradisi “tilik sumber mata air”, sebuah praktik kolektif yang secara rutin dilakukan oleh masyarakat. Dalam kegiatan ini, warga datang bersama-sama ke lokasi sumber, membawa doa, harapan, sekaligus tindakan nyata. Mereka membersihkan area sekitar, memastikan aliran air tetap lancar, dan memperkuat komitmen untuk tidak merusak lingkungan di sekitar sumber. Tradisi ini menjadi ruang pertemuan antara nilai spiritual dan tindakan ekologis. sebuah bentuk konservasi yang tumbuh dari kesadaran, bukan sekadar aturan.

Dalam rangkaian Festival Sumber Tunjung, Sumber Suci menempati posisi sebagai sumber kelima dari tujuh sumber yang dijunjung. Ia menjadi bagian dari narasi besar tentang “Tujuh Sumber yang Dijunjung”. sebuah representasi hubungan manusia dengan air sebagai sumber kehidupan. Di dalamnya, Desa Suci tidak hanya hadir sebagai lokasi geografis, tetapi sebagai simbol bagaimana masyarakat menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup dan penghormatan terhadap alam.

Namun, di balik narasi yang tampak harmonis ini, terdapat realitas yang tidak bisa diabaikan. Pertumbuhan penduduk, kebutuhan ekonomi, serta tekanan perubahan iklim menjadi tantangan nyata bagi keberlanjutan sumber air. Kesakralan Sumber Suci memang menciptakan kesadaran kolektif untuk menjaga, tetapi pertanyaannya adalah: apakah itu cukup untuk menghadapi perubahan zaman yang semakin kompleks?

Di sinilah Desa Suci menemukan relevansinya. Ia bukan hanya contoh kearifan lokal, tetapi juga ruang belajar. bahwa menjaga sumber air tidak bisa hanya bergantung pada tradisi, tetapi perlu diperkuat dengan pengetahuan, pengelolaan yang lebih sistematis, dan kesadaran lintas generasi.

Sumber Suci pada akhirnya bukan sekadar mata air. Ia adalah cermin: tentang bagaimana manusia memandang alam, bagaimana mereka memperlakukannya, dan sejauh mana mereka mampu bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup yang mereka gantungkan padanya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *